bocah yang selalu diganggu
Sepulang ku dari kampus, aku
berpapasan dengan tiga anak kecil lucu-lucu.
Aku iri melihat tiga bocah
itu bisa tertawa sepuasnya, seakan mereka bahagia selamanya.
Mereka, seakan membawa ku ke
masa lalu.
Peristiwa yang disana aku
selalu merasa tak mampu.
Aku dan dua orang yang
terpaksa menjadi teman ku.
Enam tahun aku di sekolah
itu, hanya dua tahun aku bisa berbagi canda, sisanya, aku bergelimang air mata.
Jelas ku ingat, bola mata mu
yang memandang ku lekat-lekat.
Mengamati ku yang lesu sembari
menyimak penuturan dari guru.
Aku memang tak tahu pasti
yang kalian bicarakan, tapi aku yakin yang terjadi setelahnya adalah hal yang
sudah direncanakan.
Kalian berdua mengahampiri
ku, basa-basi tentang tugas dari guru.
Istirahat bersama ku, pulang
pun mengantar ku.
Aku ragu, tapi untuk pertama
kali dalam ratusan minggu, aku tersenyum.
Esoknya aku curiga kalian tak
akan disamping ku.
Tak ku sangka, kalian bahkan
lebih natural dari kemarin.
Aku bahagia bukan main.
Kalian benar-benar menerima
ku,
Atau kalian memang berbakat
memainkan peran?
Ah, tak perlu dipikirkan,
yang penting hati ku teriak kegirangan.
Seandainya kalian enggan
mengulurkan tangan pada ku,
Mungkin, aku sudah selesai
saat itu, dan tak pernah mencapai beberapa ingin ku.
Kalau kalian membaca tulisan
ku, aku harap kalian mau menyambut kepulangan ku, aku yang baru.
Terima kasih telah membela ku
di hadapan bocah-bocah tengil yang tak punya malu itu.
Terima kasih berbesar hati
mengizinkan ku duduk sebangku.
Dari sekian orang direunian,
kalian adalah dua orang yang harus aku temukan.
Kalian harus melihat aku yang
sekarang,
Berbanggalah kalian, berhasil
menyelamatkan masa depan seseorang.
Dan untuk kalian bocah-bocah
tengil yang tak punya malu,
Terima kasih,
benturan-benturan itu, berhasil membentuk ku.
Dari
aku, bocah yang selalu diganggu.
Joss, jaman enom pok mbak?
BalasHapusGak enom maneh. Jaman bocah mase.
Hapus