Bukan cerita biasa,


Bukan cerita biasa,

Jangan pernah kasihan,

Hanya membuat terlihat makin menyedihkan.


Beberapa hari terakhir ini, aku tak nafsu makan.
Entah karena tak ada makanan yang sedap di lidah atau karena aku sudah kenyang dengan kenyataan.
Untungnya aku sadar.
Aku sedang tidak di rumah.
Tidak ada Bapak, tidak ada Ibuk yang selalu mengingatkan makan.
Aku rutin membeli makan, ya atau sesekali memasak, masakan seadanya di kontrakan.
Seringnya, tak habis ku makan semua.
Sisa, sengaja disisakan, sengaja tak ku habiskan.
Perut ku sudah penuh dengan kupu-kupu beterbangan.
Lupa bahwa kebahagiaan tak akan bisa disertai keegoisan.
Tapi saat ku tatap lagi sisa makanan.
Aku lihat petani yang saat fajar bergegas menuju sawah.
Entah itu miliknya atau dia hanya menjadi buruhnya.
Aku melihatnya memanen padi di tengah terik mentari.
Kepanasan, keringat membasahi badan, dan tentunya telanjang kaki sudah menjadi kebiasaan.
Setelah itu, aku melihat anak jalanan.
Anak-anak yang ramai di Babakan.
Aku melihat teman ku yang kadang seharian tak makan.
Aku inat keadaan akhir bulan yang jarang membahagiakan.
Mata cerah ku, perlahan memerah, ada yang terkumpul dan siap jatuh.
Satu tetes, dua tetes, tida tetes, dan sampai beberapa tetes.
Hingga akhirnya aku ingat keluarga ku di rumah.
Aku ingat kami berkumpul di ruang tengah.
Bersiap makan, dengan nasi dan lauk seadanya.
Enam orang anak, memandang ke satu arah bersamaan.
Dua potong daging ayam.
Ibuk membagi adil dua potong itu menjadi enam, ah tidak, lima.
Aku cukup dengan temped an kuah sayur, kan aku tak suka sayur.
Pahit, layaknya kenyataan ini.
Adik ketiga ku iri dengan adiknya, adik keempat ku maksudnya, potongannya lebih besar.
Sebelum lebih banyak pemprotesan.
Cepat-cepat satu kalimat Ibuk lontarkan,

“Mas, adil itu ndak mesti sama. Adik mu masih kecil, kamu sudah dua tahun lebih dahulu mencicipi ayam kecap buat lauk mu.”

Bapak pun menyahut,

“Besok, kalau bapak sudah gajian, bapa belikan yang lebih besar dan banyak. Nanti masing-masing dapat satu. Sekarang makanlah.”

Kakaknya, adik ketiga ku memotong cepat,

“Jangan lupa, baca bismillah.”

Aku lupa sudah berapa tetes air mata.
Hitungan ku buyar, sebab dada ku terasa semakin sesak, dan hidung ku malah membuat sulit bernapas.
Aku lanjut makan, saat sudah tidak sesenggukan.
Diiringi banyak pertanyaan, dan kecil gumaman,

“Bapak, Ibuk, dan adik-adik ku sudah makan belum ya?”
_________________

Allah SWT berfirman:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,”
(QS. Al-Baqarah ayat 155)

Terima kasih sudah biasa saja saat membaca tulisan ini



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tepian Jurang

Beberapa yang Menjebak