Gara-gara inspirasi
Aku mulai mengetik lagi tentang sambatan.
Jujur, saat ini aku sedang tak punya inspirasi.
Mungkin karena aku sedang sangat baik-baik saja hari
ini, dan tak ada cerita menarik yang bisa ku bagi.
Aku mendesak karib ku memberi inspirasi dan yang
dilakukannya? Pamer gigi.
Berjam-jam aku di depan laptop dan jari ku masih
enggan mengetikkan kata-kata.
Jadilah aku agak frustasi karena hampir gagal dengan
komitmen sendiri.
Rasanya seperti kekenyangan. Aku sangat muak. Ingin teriak, tapi apa yang akan dikata tetangga kontrakan nanti?
Aku tak habis pikir dengan para penulis yang
berhasil menamatkan bukunya dengan sempurna,
Apakah hari-harinya selalu diilhami inspirasi? Apakah
dia selalu senang hati? Atau selalu galau tiap hari?
Ku kirim beberapa chat mengemis inspirasi, dan
sesuai tebakan, itu tak akan pernah terjadi.
Bahkan menentukan jenis tulisan yang akan diketikkan
saja tidak.
Ada yang bilang, “Coba saja kamu tulis susasana di
sana.”
“Masalahnya, disini biasa saja, tak ada apa-apa.”
Katanya, “Atau kamu tulis saja, tentang hujan dan
kilat. Disini sedang hujan dan banyak kilat loh.”
“Nggak. Aku nggak suka kilat. Dan hujan? Semua rangkaian
kalimat ku udah larut kebanyakan kesiram air.”
Si-alan. Ternyata nggak Cuma gang yang buntu, usus
juga buntu, inspirasi dan imajinasi pun bisa buntu.
Beberapa lembar dokumen word ku isi dengan tulisan,
dan hasilnya? Lebih parah dari aku yang jujur sedang tidak kepikiran apa-apa.
Rasanya, aku ingin belajar ngebaperin diri sendiri.
WKWK. Tapi gimana caranya?
Tanyalah aku, dan jawabnya? “Aku juga nggak ngerti. Toh
inspirasi kan nggak bisa dicari, dia bakal dating sendiri.”
Hmmmm. Dia benar. Dan aku mulai pasrah dengan
komiten sendiri.
Batinku, “Bahkan aku aja gagal sama komitmen
sendiri, gimana mau komitmen sama doi? Jangkrik bossss.”
“Udah santai aja si, nikmati setiap waktu disuasana
yang biasa itu. Rasanya bakal dating sendiri.”
“Aku nggak akan terima ini, masa iya aku dibikin
frustasi sama itu inspirasi.”
“Oke gini, coba aja nyeduh kopi, keluar kontrakan,
terus baca beberapa buku.”
Oke, males.
Eh, sebentar. ini sambatan atau ringkesan chattingan?
Hm, jadi yang mempersulit siapa si? Suka nggak
sadar diri emang saya ini.
“Ya terserah, setiap kata miliki mu, kan Cuma kamu
sendiri yang bisa memperindahnya.”
“Eaaaakkk”
Oke, bahkan untuk sekedar balas chat pun, aku nggak
tau lagi.
Oh Tuhan, ada apa sama aku ini.
Jadi, gini ya rasanya. Menulis (tulisan ga jelas pun)
sesulit ini. Apalagi er u ru te i tin, rutin.
“Iyalah muf, berkata itu butuh rasa, dan nggak
setiap saat kita bisa ngerasain rasa itu.”
Hm, apa maksudnya? Ya begitulah, paham. Tapi? Nggak tau
lagi.
“Itu artinya, ada saatnya kita mati rasa?”
“Ya. Bisa dibilang gitu. Kadang, kita bisa ngerasain
rasa itu ketika kita lagi seneng kalo nggak sedih, tapi ketika suasana hati
kita lagi biasa aja, kita jadi nggak tau perasaan kita itu lagi gimana. Udah,
jangan di paksa.”
“Hm, aku keluar dulu ya.”
______________
“Mase sakiti aku, biar aku ada inspirasi, ada cerita
yang bisa tak bikin puisi.
Eh jangan, maksudnya.
Mas, tolong balas perasaan
ini, mulai dari balas chat yang ku kirim.
Nanti, mas tak bikinin puisi. Gimana?”
“Bikin buku nikah aja gimana dek?”
Aku ingin gantung diri karena syok, tapi ga jadi,
kan mau nikah bentar lagi.
HEHE.
Komentar
Posting Komentar