Kenyang menanti dengan senang hati.


Dengan sisa waktu yang aku miliki,
Semoga tak pernah terjadi,
Kamu hanya membercandai dan membuat ku kenyang menanti.
Apapun yang terjadi, sepertinya hati menemukan pelabuhannya dengan senang hati.
- - -

Hari ini, aku ingin bercerita lagi.
Semalaman aku berkutat dengan materi perkuliahan, ceritanya besok ada ujian.
Nah, mata kuliahnya Antropologi Sosial, dan aku paling senang saat me-review bab Antropologi Pangan.
Pas banget sama tulisan sebelumnya yang sedikit membahas tentang keluarga dan makanan.
Sayang sekali, tiap kalimat ku baca, tak ada yang membuat ku tetap berada pada garis kenyataan.
Justru dalam tiap kata yang terangkai, aku semakin liar dalam berandai, larut dalam fantasi.

Pada bagian awal, aku dikenalkan pada fokus kajian antropologi.
Katanya, apa yang kita makan dan apa yang kita pikirkan tentang makanan, itu terpengaruhi oleh nilai dan keyakinan yang kita miliki. Semua tentang pangan ini, ternyata dikonstruksi dari hasil kita berinteraksi.
Gumpalan awan muncul diatas kepala ku,
Aku merasa rancu. Bagaimana aku mempresepsikan makanan kesukaan ku sendiri dengan dua hal yang bertolakan.
Makanan yang membuat ku bahagia dan berbunga namun dalam selimut ketakutan.
Wilayah realita menyeret ku pada ketakutan yang teramat dalam, memacu detak sangat cepat hingga tak beraturan. Pengalaman tak baik yang menjejak kering air mata di pipi. Rupanya satu kepahitan dari ribuan manis kebahagiaan lebih mengerak dalam ingatan. Aku ingat betul, sepanjang jalan orang melihat dengan pandangan heran. Jalan ku makin cepat, jantung berdegup lebih cepat. Pandangan ku mengabur, emosi ku melebur dalam aliran penyesalan. Aku ingat Tuhan dan kemurkaan. Aku takut menyalahi aturan. Kaki ku melangkah pada tujuan penyesalan. Aku teramat menyesal mengabaikan peringatan-peringatan. Aku teramat merasa berdosa atas kebohongan yang lepas dalam satu kalimat. Meledak semua kekalutan saat ku gerakkan tangan membuka pintu kontrakan. Karib ku lebih keheranan. Keceriaan dalam tiap kepulangan, rupanya hanya kisah tak berkelanjutan. Terjeda tangis dan sesak sebagai sapaan aku pulang. Kelu lidah ku untuk menyampaikan perasaan, mata ku saja enggan menanggapi pandangannya. Aku ambruk dalam pelukan, mengeluarkan semua perasaan.
Aku kembali melihat laptop ku yang menyala. Ah, aku masih harus belajar, besok ujian. Lupakan, lupakan.
Ternyata aku justru mulai masuk dalam wilayah khayalan yang imajiner.
Aku mengulum senyum, dan melepas suara cekikikan tanpa alasan.
Mengingat lembaran berisi tulisan yang sekali baca memberi efek kasmaran berlebihan.
Ada janji yang harus ditepati. Ada hati yang mulai terisi. Ada candaan yang selalu menyelingi. Ada pandangan yang menatap penuh arti. Dan cacian yang mengumpan arti lain lagi. Aku terlihat bahagia sekali. Aku teringat lontaran keinginan siang tadi.
“Hm, coba saja ada teman jalan. Aku ingin mencicipi makanan kesukaan ku di ujung jalan sana.”
Aku yakin, ini pekerjaan Tuhan. Bukan bermaksud apa-apa. Sekali lagi, aku yakin permintaan ku didengar Tuhan. Namun sekalinya aku dibesarkan khayalan, aku mulai kenyang dengan penantian. Aku lupa untuk tersenyum gembira saat menyantap makanan kesukaan.
Karib ku keluar dari kamar,
“Muf, masih di halaman itu belajarnya? Perasaan kalimatnya gak panjang, dan ini udah lebih dari delapan menitan.”
Aku bangkit dan mengecek ponsel yang tergeletak di atas meja. Aku bawa sebagai teman, aku play musik-musik kesukaan.

Aku selesai dengan satu bab perkuliahan. Ku buka file dari asisten, judulnya kisi-kisi ujian.
HAHA, menyenangkan bukan?
Ku buka soalan bab Antropologi Pangan.
Ternyata, pertanyaan tentang makanan sebagai ungkapan ikatan sosial. Jawaban yang bisa diberikan ada beberapa kemungkinan, dan yang terpikirkan?
Barangkali di setiap masyarakat, menawarkan makanan (dan kadang-kadang minuman) adalah menawarkan kasih sayang, perhatian, dan persahabatan. Menerima makanan yang ditawarkan adalah mengakui dan menerima perasaan yang diungkapkan dan untuk membalasnya.
Sialan, perasaan ku enggan menyia-nyiakan kesempatan.
Aku malah kepikiran dia yang sering membuat letupan kembang api dalam ingatan.
Konsep penerimaan ini malah mencemari pikiran.
Dugaan-dugaan bermunculan, apakah dia akan menawarkan? Agar aku tak dibimbangkan perasaan, dan aku tak payah melakukan penawaran. WKWK. Oke, aku nggak gampangan.
Aku terkekeh geli mengingat FTV yang selalu disertai adegan seorang perempuan membawakan bekal makan kepada laki-laki yang disukainya.
“ohalah, masa si ada kaitannya? WKWK kok bisa. .  . HAHA ada-ada saja Mup.”
Aku kepikiran ajakan yang masih aku gantungkan. Dengan perasaan yang merengek pembenaran, alangkah mudah Tuhan memberi petunjuk jalan. WKWK. Apa aku iyakan saja? Sial, sialan. Setan berbisik menjerumuskan.
Meski sebenarnya, kalau mau jujur-jujuran. Menolak adalah pilihan yang tak mungkin aku pilih. Biarkan saja ia lupa dengan perbincangan bersama sebelumnya. Aku masih akan dan selalu ada. Toh sudah ada keputusan, meski dibumbui sedikit keraguan. Dan aku akan sangat senang hati, dengan sisa waktu yang aku miliki ia akan kembali. Entah kapan lagi, dan apapun yang terjadi, sepertinya hati menemukan pelabuhannya dengan senang hati
Tuhan, aku ingin membuat permohonan. Semoga tak pernah terjadi, dan aku mohon jangan pernah biarkan terjadi. Ia hanya membercandai dan membuaku kenyang menanti
Kembali ke FTV, saya yakin kalian pasti pernah menontonnya, ya meski hanya sekali.
Kemungkinan yang terjadi hanya dua. Oh tidak, bisa tiga atau empat, eh iya lima.
Pertama, laki-laki itu menerima dan makan bersamanyanya. Hm, atau dimakan setelahnya. Intinya, diterima dan dimakan. Etapi, kemungkinan alasan hal ini kejadian ada dua, si laki-laki menerima si perempuan karena ada perasaan, atau si laki-laki sedang kelaparan karena belum sarapan.
Kedua, laki-laki itu menerima dan disimpan. Kejadian selanjutnya? Bisa diminta teman-temannya, dan diberikan dengan percuma.
Ketiga, laki-laki songong dan jahat. Dia akan menerimanya dan membuangnya. Kadar kejahatan tertinggi adalah ketika dia membuangnya tepat di hadapan perempuan itu.
Keempat, laki-laki itu menolak dengan halus pemberian si perempuan. Mengatakan bahwa dia telah sarapan.
Kelima, laki-laki itu menerimanya, tidak diberikan pada temannya, tidak dibuang sembarangan, tapi tidak pula makan bersama si perempuan.
Bisa kalian tebak? Ya, dia menerimanya dan memberikannya pada gebetan.
Lumayan, modal gratisan.
HEHE.
Oke cukup Mup. Beberapa jam lagi, kamu akan ujian. Berhenti dengan semua khayalan dan pikiran tidak penting itu.
Aku ambil ponsel, buka aplikasi gambar, edit dan ketikkan jawaban soal Antropologi Pangan barusan.
Setan menggiring ku untuk memberi kode pada ia yang diharapkan dan didoakan.
Eitss, ternyata tidak juga.
Setan menggiring ku agar aku menggiring warga media dengan berbagai dugaan dan prasangka. Ya, tidak beda jauh dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Warga media tetap target utama.
Bumbu tambahan kalimat “Menerima makanan yang ditawarkan adalah mengakui dan menerima perasaan yang diungkapkan dan untuk membalasnya.”
Hm, apa ya kiranya. Oke, ketemu.
“Jadi, Maukah kamu menerima dan membalas perasaan ku?”
Simpan, bagikan.

Selamat ujian. Jangan galaukan ujian perasaan, kenyataan, dan kehidupan terus. Cobain deh sensasi galau ngelihat nilai ujian kejujuran dan pemahaman. Eh tapi itu kalau kamu jujur si.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tepian Jurang

Beberapa yang Menjebak