Mengenal si Merah dengan Hati


“Tak mudah untuk berpaling warna, sedari kuning beralih merah.
Kultur juang dakwah jelas tiada sama.
Keluarga baru tetap tak akan sanggup mengganti yang dahulu.
Namun Amar Ma’ruf Nahi Munkar harus terus lantang diserukan.
Di mana pun dan kapan pun”

Sebait syair yang membangunkan semangat juang ku dalam ikatan yang menurutku baru, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Keyakinan untuk terus berdakwah dimana pun dan kapan pun, termasuk dalam dunia baru ku, Kampus Hijau, Institut Pertanian Bogor.
Aku adalah mahasiswa baru, tak begitu baru memang. Lekat ku ingat, hari Rabu tanggal 17 Mei 2017 pukul 09.30 WIB di gedung Grha Widya Wisuda aku menemui Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru Institut Pertanian Bogor untuk melakukan daftar ulang. Terhitung telah 338 hari aku menyandang status sekaligus gelar sebagai  mahasiswa Institut Pertanian Bogor angkatan 54 atau yang akrab disebut sebagai Ksatria Khatulistiwa. Kesan ku terhadap kampus pertama ku adalah luar biasa, dengan kebiasaan mahasiswa yang akrab dengan nilai-nilai agama, namun tetap meroket dengan segudang prestasinya.
Bercerita tentang baris pertama pada syair sebelumnya, memang bagi ku tak mudah untuk berpaling warna, sedari kuning menjadi merah. Membacanya, kalian pasti telah menduga, dan benar saja. Aku adalah kader jas kuning sedari SMA, Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang berhasil menuntunku untuk teguh dan lurus di jalan Allah, berbalut asik dan sederhananya berorganisasi kala itu. Tapi, sekarang aku di sini, di Kampus Rakyat, kampus yang terpaut jarak 399.800 meter dari rumah ku. Beda daerah, beda rasa masakan di lidah, beda suasana, dan beda jalan juang dari yang sebelumnya. Mudah bagi ku untuk mencari abang si kuning, alumni SMA ku tak sedikit yang di sini, dan tanpa ku minta, mereka paham dan mengajak ku terjun dalam perjuangan si merah.
Awal berkenalan dengan dunia si merah, pikirku ia akan sama dengan si kuning. Si kuning yang santai dan mengasyikkan seperti kata pemimpin sekaligus abang bagi ku di Pimpinan Komisatiat IMM IPB, dan  melaluinya aku tahu, meski si kuning dan si merah dalam balutan kehangatan yang sama, balutan Sang Surya, akan tetapi atmosfer yang ada bagiku sangat jauh berbeda. Si kuning, penuh keceriaan dan keasyikan dalam jalan dakwahnya. Si merah, penuh tantangan dan liku dalam jalan juangnya tatkala berdakwah, terlebih di kampus yang bukan merupakan amal usaha Sang Surya, kampus heterogen yang terdominasi golongan tertentu. Aku memang belum begitu mengenal lingungan ku, belum mengenal dengan baik ikatan ku, dan aku belum mengenal suasana dan perpolitikan kampus ku. Tapi setidaknya lebih dari 100 hari aku benar-benar membersamai ikatan ku aku mulai mengenal pola juang kami di sini, dan mungkin dapat ku ceritakan sedikit kisah ku dan ikatan ku di Kampus Pertanian Terbaik Bangsa. Tak ada protes, sebab inilah sudut pandang ku.
Kondisi tiap kampus berbeda, bahkan meskipun dalam satu daerah, sehingga jalan yang kami tempuh pun berbeda. Ruh perjuangan kami di sini adalah Kabarmu atau Kajian Bareng Muda-Mudi, agenda yang menjadi rutinan kami dalam ikatan. Kajian ini tidak bersifat internal, tapi bersifat umum bagi mahasiswa IPB, bahkan kalau kalian mau ikutan, sambut hangat kami terbuka untuk kalian. Sasaran utama kami memang bukan untuk mengajak bermuhammadiyah, tetapi mengajak mendalami islam dan keilmuan, pada umumnya. Sebagai mahasiswa pertanian, yang kami kaji tak hanya mengenai ibadah dan seputar keislaman, melainkan juga seputar dunia pertanian, mulai dari on farm, off farm, hingga mengenai jasa penunjangnya. Kajian atau diskusi kami tentu pula berlandaskan syariat agama, sebagai contoh, tak jarang kami membahas mengenai bagaimana caranya menyongsong pertanian bangsa Indonesia, dan berekonomi secara syar’i. Tempat kami mengadakan kajian tidaklah tetap, di sekretariat misalnya, sebab kami belum memiliki ruang sekretariat, sehingga terkadang kami melaksanakan kajian di tempat-tempat umum di kampus. Jangan berpikir kami melaksanakannya di ruangan layaknya ruang kuliah atau apapun yang kondusif, kami melaksanakannya di koridor-koridor kampus, dimana di sana tak jarang mahasiswa lain berkegiatan seperti street dance atau aerobik, sekarang bias kalian bayangkan? Bagaimana kami harus fokus pada isi kajian atau diskusi?
Memutuskan untuk mulai berjuang bersama di ikatan, tak serta merta ku temukan kenyamanan dan rasa memiliki ikatan. Keluhan dan rengekkan kebosanan tak jarang terlontar kepada kawan-kawan lainnya. Mungkin, itu salah ku yang belum mampu beradaptasi dan menempatkan diri, bukan salah ikatan yang gerak juangnya berbeda dari si kuning. Sekali lagi itu salah ku. Terlebih, aku tak hanya terlibat dalam ikatan ini, aku juga melibatkan diri di ortom Muhammadiyah lain, yakni Tapak Suci Putera Muhammadiyah IPB, dan ikut pula terlibat dalam Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat satu IPB.
Keterlibatan seseorang yang di kader Muhammadiyah dalam organisasi mahasiswa kampus, pada dasarnya tak sulit, sebab telah terbekali dengan kompetensi dan kapasitas diri dalam berorganisasi. Namun, ada yang berbeda dengan keterlibatan ku di organisasi mahasiswa ini, entah ini hal baru bagi kalian, atau bahkan telah menjadi rahasia umum, tak mudah bagi seorang kader Muhammadiyah masuk dalam struktural ormawa terlebih di tingkat satu IPB. Tapi, sekarang aku telah berada dalam sistemnya.
Sering ku bandingkan antara ikatan ku dengan ormawa ku. Namun, dari sana, mata dan pikir ku terbuka, sebab di antara keduanya tidaklah sama. Keaktifanku di ormawa pun bukan alasan ku untuk pasif dalam ikatan. Nampaknya, kalian perlu tahu, bahwa tadinya, aku agak menutup identitas merah ku pada sekitar. Aku tak menyalahkan kalian jika kalian menghujat ku, karena mungkin kalian pun tidak tahu bagaimana suasana perpolitikan kampusku, atau setidaknya kalian belum tau bagaimana perjuangan seseorang beridentitas merah untuk masuk ke dalam struktural ormawa. Kami harus kuat, kami harus benar-benar menunjukkan kemampuan kami, dan kami harus bisa meyakinkan yang lainnya.
Sampai suatu ketika, abang tingkat ku di ikatan saling berbincang dan tak sengaja ku dengar, bahwa taring sang merah sudah selayaknya ditunjukkan, dan tak sepatutnya seorang kader ikatan malu dengan identitasnya. Aku merasa, aku kader yang lemah, atau bahkan aku tak layak disebut sebagai kader persyarikatan? Bahkan sampai saat itu, aku pun belum sepenuhnya resmi menjadi seorang kader ikatan. Aku ingin sedikit memberi tahu kalian bahwa bagi kami, mahasiswa IPB sangat sulit membagi waktu untuk berkegiatan di luar selain kegiatan kampus, sehingga tak jarang, banyak diantara kami yang belum mengikuti pengkaderan secara resmi, namun itu juga bukan alasan kami untuk diam tanpa progres. Boleh ku sisipkan perjalanan ku untuk mengenal ikatan?
Kesempatan untuk setidaknya meng-up grade diri ku pun datang, aku dan seorang kawan ku mengikuti pengkaderan Darul Arqam Dasar di Tangerang Selatan. Kami berdua, sama-sama anak rantau yang belum pernah jauh meninggalkan wilayah kampus, namun dengan mantap, selepas isya’ kami berangkat ke Tangerang Selatan dengan bantuan dan arahan dari kakak ikatan kami, dan ketua pelaksana pengkaderan tersebut. Aku sangat ingat, setidaknya tengah malam kami baru sampai di tempat temu kami dengan penyelenggara pengkaderan. Tak lain hal itu karena kami yang belum terlalu paham rute perjalanan kereta commuter line dan daerah tempat temu yang dimaksud.
Tengah malam itu pula dingin udara malam terabai oleh sambut hangat kedua abang penyelenggara pengkaderan, mereka adalah ketua umum PC IMM Tangerang selatan dan ketua pelaksana kegiatan DAD kala itu. Melalui pengkaderan itu lah, aku mulai mengenal ikatan ku, tapi tetap belum ku kenal utuh IMM kampus ku.
Usai pengkaderan itu, aku masih belum merasa cukup, karena keingin-tahuanku akan ikatan belum terjawab. Ah, rasanya aku tadi belum cerita, bahwa saat malam pertama pengkaderan perut ku kram dan aku tiada lagi kuasa menahan sakitnya. Sakit itu, telah ku rasa sejak siang harinya, namun terabai sebab saat itu aku sedang semangat-semangatnya. Ku kira itu hanya sakit perut biasa. Benar saja, sakit yang tak lagi mampu ku tahan akhirnya tiada lagi terasa, tepat setelah salam kedua ku usai sholat isya’ aku menyenderkan tubuhku pada Leha, dan setelah itu, aku tak tahu apa yang terjadi lagi. Seingatku, aku melewatan satu sesi materi, materi malam itu, filsafat.
Merasa tak rampung dengan DAD ku sebelumnya, aku akhirnya mengikuti pengkaderan yang diadakan Pimpinan Komisariat di daerah Kabupaten Bogor, setidaknya itu sudah cukup untuk menjawab rasa ingin tahu ku terhadap ikatan. Aku merasa setidaknya aku dan mereka adalah sama, dengan jalan juang dakwah yang sama pula. Hingga suatu ketika, pikir ku itu, ku buang jauh-jauh. Perasaan ku sempat tergores ketika salah seorang kader lain menyebut bahwa aku tidak totalitas dalam berikatan, dan aku bukan seorang kader yang sesungguhnya. Semalaman aku berdebat dengannya tanpa ada penengah di antara kami. Sampai akhirnya, lelah memaksaku menyudahi perdebatan. Merasa lemah, ku ceritakan perdebatanku dengan kakak ikatan ku yang sudah ku anggap sebagai kakak sendiri. Darinya, aku mulai memahami mengapa perdebatan itu terjadi, adalah ketakpahaman kami atas jalan juang dakwah yang berbeda di tiap kampusnya meski ikatan kami sama.
Masih ingat tentang perbincangan abang tingkatku? Sayangnya, bahkan setelah pengkaderan selesai pun aku masih agak sungkan menunjukkan diri pada kawan ormawa ku bahwa aku kader ikatan, sebenarnya bukan karena malu lagi, tetapi pikir ku, untuk apa aku gemborkan pada dunia bahwa aku kader ikatan? Untuk apa, selagi aku belum bisa menjadi teladan bagi yang lainnya, dan belum menebar kebermanfaatan secara optimal, itu membuat ku merasa tak pantas disebut kader. Sampai tanpa ku beri tahu, ketua ku di ormawa bertanya pada ku, mengenai keterlibatan ku dengan organisasi eksternal, yang agak canggung dibicarakan dengan kader baru Lembaga Dakwah Kampus ku. Jujur saja, sejenak aku tersentak heran, bagaimana dia tahu tanpa ku beri tahu, nampaknya aku lupa dengan tak terbatasnya jangkauan informasi dalam teknologi masa kini. Aku pun agak ragu, sebab perbedaan hmm, apa namanya? Harakah? ah tidaklah, aku belum layak membicarakan itu, bahkan aku saja tak tau sejatinya itu apa, dan bahkan aku masih buta dengan perpolitikan kampus ku. Namun, entah mengapa, saat itu pula aku matap mengatakan aku adalah Mahasiswa Muhammadiyah. Meski kawan lain bertanya apa itu IMM, dan entah mengapa pula, akhirnya aku asyik berbagi informasi dan pengalamanku dengan IMM meski pun baru seumur jangung. Kemantapan dan rasa bangga ku akan ikatan bertambah, sejak akhir musyawarah komisariat tanggal 25 Desember 2017 lalu.
Saat ini, aku merasa taring si merah tak lagi perlu ku sembunyikan, sebab sekarang aku adalah merah dan merah adalah aku. Keterlibatanku di organisasi lain bukan karena aku tak puas di ikatan, sebab berorganisasi bukan mengenai kepuasan batin, bukan untuk mengembangkan loyalitas, melainkan untuk meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan efisiensi serta meningkatkan output. Keterlibatanku dalam organisasi lainnya tak lain adalah untuk mendapatkan ilmu lebih yang nantinya mampu ku bawa kembali ke ikatan dan mengembangkannya bersama-sama dalam ikatan. Mulai saat itu pula, aku sadar bahwa si merah tak membutuhkan aku, tetapi akulah yang membutuhkan si merah dan harus terus menghidup-hidupkannya.
Jika mengenal si merah dengan sejarah dan pola juangnya begitu sulit bagi ku, maka izinkanlah aku untuk mengenalnya lebih dulu dengan hati ku.
Bogor, 20 April 2018
Gedung A4 Asrama Mahasiswa Putri PPKU IPB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tepian Jurang

Beberapa yang Menjebak