yang tak pernah utuh lagi
Tepat di
ujung hari dengan langit jingga menemani,
Aku
kembali dirisaukan tentang kita yang bahkan aku tak tau apa namanya ini.
Saling
berbagi cerita tiap hari, berbagi perhatian sering kali, dan ungkapan perasaan
yang tak terduga sama sekali, yang tak jelas itu candaan atau serius sedang dihadapi.
Duduk
ditemani harum teh yang semerbak mewangi.
Ku baca
lagi chat-chat kita selama ini, tak ada yang tak berkesan dalam hati, dan
semuanya membuatku terkekeh geli.
Apalagi,
saat kita saling melempar puisi. Rasanya aku ingin hidup selamanya di dunia
ini.
Tak
jarang kamu mengirimkan lelucon yang karena mu, hari ku tak ada yang
benar-benar melelahkan.
Kamu
yang mengutarakan perasaan lewat rangkaian kalimat yang tak jarang membuat ku
melayang ke angkasa. Aku juga tahu betul, impian kamu tentang buku pertama yang
akan kamu luncurkan. Tentang seseorang yang membuat mu berjuang mendapatkan
restu Tuhan. Dia yang kamu perjuangkan, dan aku yang kamu jadikan permainan.
Aku sadar ini sejak awal, tapi aku tak paham bahwa mainan hanya sebatas
pelampiasan, hingga perasaan nyaman terbalut rapih dalam kedok pertemanan.
Banyak
topik yang telah kita bicarakan, mulai dari pengalaman seharian, momen-momen
membahagiakan, rencana-rencana masa depan, pernikahan impian, juga sambatan-sambatan
tentang kesulitan dan kekecewaan.
Dan dari
semua jenis pembicaraan selalu kamu menuntun ku pada senyuman dan pipi
kemerahan.
Ku hirup
aroma teh sekali lagi. Ku teguk sesekali.
Mendadak
aku teringat pesan yang kamu kirim pagi tadi.
Yang
sampai sore ini, tak berani ku tanggapi. Kamu yang meminta saran untuk
mengambil hati. Aku yang curiga tentang keputusan mu untuk menyudahi. Aku tak
yakin, apakah aku tak pernah benar-benar berhak memiliki? Aku merutuki diri
yang terlalu mengambil hati atas sikap mu selama ini.
Kamu,
yang ternyata sejak awal membersamai tapi tidak untuk sampai akhir nanti.
Aku
rasa, harus ku cukupkan sampai disini.
Tak sudi
aku melangkah lebih jauh lagi. Tak akan sanggup aku terima risiko untuk lebih
remuk dari saat ini. Kamu membuat segumpal rasa ini tak pernah utuh lagi. Hanya
ada bagian ku, sebab bagian mu sudah bersatu dengan yang kamu sebut pujaan
hati.
aaaaa congrotulation sweety.... meleleh dan yang pasti on point. ada lem enggak sih, buat nyatuin lagi hatiku yg remuk gara gara baca ini.
BalasHapusWah terima kasih kaka cantik sudah mampir. Ada tips nih, coba rekatkan lagi dengan basa-basi tanya kabar dan curhat colongan sama doi. WKWK
Hapus