Postingan

Semoga

Selamat malam, selamat membaca cerita ku lagi. Aku yang sering berbunga-bunga, kemudian mati rasa, lalu galau segalau-galaunya, dan sekarang? Aku tak tau ini jenis yang seperti apa. Aku kembali, Ke terminal yang sama untuk kesekian kali. Malam ini, Ibuk dan Bapak tidak membersamai, untungnya aku punya teknologi. Teknologi terbaik yang Tuhan pernah anugerahkan. Teknologi pertemanan. Biasanya, setiap ku naiki tangga bis ini, Langkah pertama, aku merasa suatu ketidakrelaan. Kedua kalinya, degup ku makin tak beraturan, Ku tolehkan kepala ke belakang, lalu wajah ku, ku arahkan ke atas. Jaga-jaga, agar air yang sudah terkumpul tak jatuh begitu saja. Ku kedipkan mata beberapa kali. Langkah terakhir, aku sampai ke dalam bis. Ku susuri lorongnya, ku letakkan barang-barang ku. Ku arahkan pandangan ku ke jendela, dua tangan melambai, wajahnya berseri menyuntikkan semangat agar aku tak gentar untuk pergi. "Nduk, belajar rajin-rajin, banyaklah bermanfaat buat orang lain, sholat...

Tanpa judul

Pukul tiga dini hari. Tepat waktu untuk kembali. Beberapa meter lagi untuk sampai di tempat berhenti. Ku ambil barang-barang ku, ku ajak serta karib ku. "Pak, setelah tikungan itu berhenti ya. Kami mau turun di situ." "Oh iya nak." Bis berhenti tepat di tempat yang kami maksud. Pintu terbuka otomatis, dan ternyata saat itu gerimis. "Kami turun ya pak, terima kasih." "Sama-sama nak, hati-hati ya." "Iya pak." Jawab kami serentak. Ku amati sekitar. Jalanan Pantura yang sangat lengang. Gerimis makin deras. Aku dan karib ku masih menanti jemputan. Tak ada pembicaraan yang berarti. Dan antar kami, lebih banyak diselingi sepi. Karib ku membuka pembicaraan, Dia terus berbicara apa saja, Aku bosan. Suaranya perlahan samar. Gerimis berhenti, terik mentari terasa menyengat sekali. Banyak kendaraan berlalu lalang, truk-truk besar mendominasi. Ternyata, aku sendiri. Sedang menyeruput secangkir kopi, tepat di pinggir rel keret...

Potongan

Masihkah ingat? Es lilin yang kita beli bersama di depan rumah tua. Penjual yang berhenti tepat di bawah pohon mangga. Aku beli sepotong yang rasa cokelat. Kamu pilih yang rasa strawberry, kata mu "Strawberry itu enak, ada asem-asem nya gitu. Kayak kamu si, tapi aku suka." Aku merajuk. Lalu, kamu ingat kah? Saat pelajaran matematika dan guru menyuruh menggambar tiga buah segitiga. Sisi yang ku buat tak lurus. Hehe, aku tak menggunakan penggaris. Tiba-tiba kamu sodorkan penggaris kecil. Hasil mu membagi dua penggaris tipis 30 centimeter. Terima kasih dan senyum kikuk yang bisa ku lontarkan untuk mu. Akhir masa SMA dan mungkin terakhir sebelum perpisahan kita. Masuk ke dalam kotak foto bersama. Pasang wajah paling konyol yang kita punya. Tertawa sekeras yang kita bisa. Kamu mengejek ku, aku balas mengejek mu. Cetak foto yang aku terima, hanya setengah. Marahlah aku. Kamu bilang, "Udah si biasa aja, di potong dulu, berpisah dulu." Masih tak hab...